SULAWESIOUS ENCOUNTERS
Tomohon, Sulawesi Utara

Pelan-pelan, Kecap dan Lihat Dunia Kami — Penuhi Tubuh, Jiwa dan Rohmu.
Kami tidak punya bintang Michelin,
hanya nenek-nenek yang bangun subuh,
menyalakan tungku keluarga, dan,
saat kau melangkah masuk,
memanggang klappertaart segar yang membuat bapak-bapak menangis.
Kami tidak menjual tur makanan,
kami membuka pintu belakang saat fajar,
menyerahkan sendok kayu masih hangat dari tangan oma,
dan berbisik “masuk dulu, makan dulu”.
Riedel, Schwarz, Wilken datang membawa Alkitab, buku nyanyian, dan cetak biru tungku,
tinggal seumur hidup,
dan meninggalkan Tiga Warisan yang masih terbit setiap pagi:
Firman dalam bahasa Tombulu dan Tontemboan,
nyanyian empat suara yang membuat gunung berapi mendengar,
dan klappertaart manis harum yang mengajarkan gunung berdoa dengan gula dan cengkeh.
Di sini, setiap perjalanan adalah ziarah rasa dan iman
bagi pecinta kuliner yang berlutut di sawah basah,
penikmat yang menghitung dua puluh dua lapis gemetar,
gastronom yang berpesta di bawah kebun aren yang bergoyang,
peziarah yang merindukan tujuh ratus suara mengubah mantra kuno menjadi “Terpujilah Tuhan”,
fotografer yang mengejar cahaya gunung berapi di wajah-wajah tua,
pendaki yang meminum kopi rebus uap belerang,
pengamat burung yang mencicipi cakalang asap di bawah tatapan burung hantu bertopeng,
pesepeda yang meluncur turun dengan aroma cengkeh dan nada paduan suara,
dan setiap orang yang pernah menari Maengket di bawah bintang-bintang.
Kami yang pertama menyebut ini pariwisata gastronomi di Sulawesi,
jantung keliling Komunitas,
masih memutar dunia satu putaran perlahan demi satu:
Make The Food World Turn.
Tanpa neon, tanpa tergesa.
Hanya napas sabar gunung berapi, “selamat datang” pelan dari seorang nenek,
dan detik saat nada terakhir mahzani mencium cahaya pertama di ladang.
Datanglah lapar.
Pulanglah bercahaya.
— Sulawesious Encounters dalam kebersamaan abadi dengan Komunitas Perintis Pariwisata Gastronomi Tomohon (ASRIGASTRON)
Tiga Warisan, satu meja · 1851 – selamanya


Kami tidak menjual perjalanan. Kami membuka pintu belakang gunung api dan mengatakan ‘masuk dulu, makan dulu’..

Tiga Warisan, Satu Meja
“1851 – selamanya”
Tiga orang Jerman. Tiga Yohanes. Mereka membawa Alkitab, nyanyian, dan tungku. Kami masih berbicara Firman mereka, menyanyikan harmoni empat suara, dan — saat tamu datang — menyalakan tungku untuk memanggang klappertaart yang sama yang diajarkan kepada buyut-buyut kami.
Siapa Kami Sebenarnya
Keluarga Dulu, Perusahaan Kemudian.
Sulawesious Encounters adalah perusahaan keluarga Minahasa kecil yang lahir tahun 2019. Kami petani, penyadap saguer, juru masak, barista, bartender, mapalus, mahzani, maengket, penyanyi paduan suara, cucu pendeta, dan anggota bangga Komunitas Perintis Pariwisata Gastronomi Tomohon. Kami hanya memutuskan dunia harus merasakan apa yang kami rasakan setiap hari.
Buat Dunia Makanan Berputar
Bersama Komunitas, kamilah yang pertama kali menyebut ini “pariwisata gastronomi” di Sulawesi. Tanpa neon, tanpa buru-buru — hanya bara arang, bait-bait mahzani, lingkaran Maengket, dan janji tenang bahwa saat kau datang, tungku akan dinyalakan untukmu.
Datang Lapar.
Pulang Bercahaya.
Pulang Sebagai Keluarga.

dengan Sulawesious Encounters